Hari ini, Selasa, 16 Juni 2026, umat Islam memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Peringatan berlangsung tanpa gemuruh kembang api yang biasa memenuhi langit saat perayaan populer; suasana malam lebih tenang dan sederhana.

Tidak tampak hitung mundur yang ditayangkan stasiun televisi dengan dentuman musik yang menggetarkan rumah. Tidak ada pesta semalam suntuk yang membuat orang lupa waktu; alih-alih, yang terlihat adalah langkah-langkah pelan dan hening serta obor kecil yang menyinari jalan kampung.
Tahun Baru terasa sederhana
Gambaran perayaan yang sederhana ini menjadi ciri malam tersebut. Kalau pun ada keramaian, itu biasanya berupa parade singkat di jalan setapak desa, dimana anak-anak santri berjalan beriringan membawa obor. Wajah mereka berseri, sementara api kecil bergoyang diterpa angin malam, menciptakan pemandangan yang kontras dengan hingar-bingar perayaan modern.
Suasana seperti ini menempatkan fokus pada makna dan penghayatan ketimbang spektakel. Tanpa kembang api dan pesta yang meriah, malam lebih memberi ruang bagi refleksi bersama keluarga dan komunitas setempat. Jalan kampung yang diterangi obor menjadi panggung sederhana untuk kebersamaan yang hangat dan tenang.
Pengganti gemuruh: obor dan langkah bersama
Obor kecil yang dibawa anak-anak santri menjadi simbol pengganti gemerlap kembang api. Nyala api yang kecil dan berkedip itu, menurut pengamatan umum, membawa suasana yang lebih intim: suara langkah, tawa pelan anak-anak, dan hembusan angin yang memainkan bentuk nyala. Tidak ada sorak-sorai keras, melainkan ritme lembut yang mengikat satu sama lain dalam perayaan sederhana.
Baca juga: Mengapa Kenangan Buruk Sulit Dilupakan?
Wajah-wajah yang berseri saat berjalan bergantian dengan heningnya malam; beberapa orang memilih berdiri di pelataran rumah sambil menyaksikan barisan itu lewat, tanpa harus mengadakan pesta besar atau menyiarkan hitung mundur di layar lebar. Malam seperti ini memberi arti bahwa peringatan dapat berlangsung dengan cara yang lebih sederhana namun tetap bermakna.
Atmosfer televisi dan ketiadaan hitung mundur
Di lain sisi, ketiadaan tayangan hitung mundur dari stasiun televisi menandai perbedaan jelas antara perayaan Tahun Baru Hijriah dan perayaan lain yang sering ditayangkan sebagai acara besar. Tanpa dentuman musik yang menggetarkan rumah, ruang publik malam itu lebih sunyi, memberi kesempatan bagi warga untuk berkumpul secara sederhana atau merenung secara pribadi.
Sunyi yang hadir bukan semata karena ketiadaan hiburan, melainkan karena pilihan untuk merayakan dengan lebih tenang. Bagi sebagian orang, malam itu menjadi saat untuk mengingat kembali perjalanan waktu, memperbaiki diri, dan berkumpul dengan keluarga tanpa distraksi besar.
Makna bersama di tengah kesederhanaan
Perayaan yang minim hingar-bingar ini menyoroti bentuk kebersamaan yang sederhana namun kuat. Barisan anak santri yang berjalan membawa obor menjadi pengingat bahwa tradisi dapat dipertahankan dalam bentuk yang menekankan kebersamaan, bukan kemegahan. Api kecil yang bergoyang di tangan mereka tampak seperti penopang kenangan kolektif yang lebih lembut namun tahan lama.
Saat sebagian tempat memilih untuk tidak menyalakan kembang api atau menggelar pesta meriah, malam itu membuka ruang bagi makna lain dari Tahun Baru Hijriah: penghayatan, dialog keluarga, dan langkah-langkah kecil yang tersusun rapi dalam kebersamaan. Keheningan tertentu juga memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menetapkan niat dan rencana tanpa terganggu oleh gemuruh perayaan besar.
Secara keseluruhan, peringatan Tahun Baru Hijriah 1448 pada malam itu tampak sebagai pengingat bahwa perayaan tidak selalu harus identik dengan kebisingan dan kembang api. Dalam ketiadaan itu, hadir bentuk lain dari perayaan yang hangat, sederhana, dan sarat makna.
